Tata Cara Puasa Ramadhan Berdasarkan Dalil Syariat
Ramadhan merupakan bulan yang selalu dinantikan oleh umat Islam di berbagai belahan dunia. Pada bulan inilah kewajiban puasa dilaksanakan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Ibadah ini tidak hanya menuntut menahan lapar dan dahaga, tetapi juga pemahaman yang benar sesuai syariat. Oleh karena itu, penting mengetahui tata cara puasa Ramadhan secara menyeluruh sebelum menjalankannya.
Keutamaan Bulan Ramadhan dan Kewajiban Puasa
Bulan Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriah yang memiliki banyak keistimewaan. Pada bulan ini, Allah SWT memberikan kemuliaan bagi hamba-Nya berupa peningkatan derajat serta penghapusan dosa-dosa yang telah lalu. Keutamaan inilah yang menjadikan Ramadhan sebagai bulan penuh keberkahan.
Puasa Ramadhan diwajibkan bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Syarat tersebut meliputi telah baligh, berakal sehat, memiliki kemampuan untuk berpuasa, berada dalam kondisi sehat, serta tidak sedang melakukan perjalanan jauh dengan jarak sekitar 82 kilometer. Apabila seluruh syarat tersebut terpenuhi, maka puasa Ramadhan wajib dilaksanakan selama satu bulan penuh.
Dalil Kewajiban Puasa Ramadhan
Kewajiban puasa Ramadhan memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad saw. Allah SWT secara langsung memerintahkan orang-orang yang beriman untuk melaksanakan puasa sebagaimana umat terdahulu.
Allah SWT berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS Al-Baqarah [2]: 183).
Selain itu, Rasulullah saw juga menegaskan posisi puasa Ramadhan sebagai salah satu pilar utama dalam Islam melalui sabdanya:
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Artinya: Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadhan (HR al-Bukhari dan Muslim).
Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban yang memiliki kedudukan sangat penting dalam ajaran Islam.
Keutamaan Pahala Puasa Ramadhan
Pada bulan Ramadhan, seluruh amal ibadah yang dilakukan akan mendapatkan balasan yang berlipat ganda. Setiap kebaikan dapat diganjar sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih sesuai kehendak Allah SWT.
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa besarnya pahala puasa Ramadhan tidak dapat diketahui secara pasti oleh manusia. Hal ini merujuk pada sabda Rasulullah saw berikut:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
Artinya: Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat. Allah SWT berfirman, “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya” (HR Muslim).
Syekh Utsman Syakir juga menjelaskan bahwa pahala puasa memiliki keistimewaan tersendiri. Jika ibadah lain dibalas dengan surga, maka puasa memberikan balasan berupa perjumpaan langsung dengan Allah di akhirat tanpa adanya penghalang. Dalam tingkatan pahala, berjumpa dengan Allah merupakan kedudukan tertinggi.
Waktu Pelaksanaan Puasa Ramadhan
Puasa Ramadhan dilaksanakan selama satu bulan penuh pada bulan Ramadhan. Penentuan awal dan akhir Ramadhan ditetapkan oleh pemerintah melalui Kementerian Agama dengan menggunakan metode rukyat dan hisab.
Rukyat adalah kegiatan mengamati visibilitas hilal, yaitu bulan sabit pertama yang tampak setelah terjadinya ijtimak. Sementara itu, hisab merupakan perhitungan matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan. Kedua metode ini digunakan sebagai dasar penetapan waktu puasa Ramadhan.
Adapun waktu pelaksanaan puasa setiap harinya dimulai sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Selama waktu tersebut, orang yang berpuasa wajib menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa.
Lafal Niat Puasa Ramadhan
Niat merupakan bagian yang sangat penting dalam tata cara puasa Ramadhan. Setiap Muslim yang akan melaksanakan puasa wajib membaca niat sejak matahari terbenam hingga sebelum terbit fajar. Niat ini termasuk rukun puasa yang tidak boleh ditinggalkan.
Lafal niat puasa Ramadhan adalah sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i fardli syahri Ramadlâni hâdzihis sanati lillâhi ta‘âlâ
Artinya: Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala.
Dalil yang menjelaskan kewajiban niat puasa Ramadhan pada malam hari adalah sabda Rasulullah saw:
مَنْ لَمْ يَجْمَعِ الصِّيَامَ قَبْلَ اْلفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ
Artinya: Siapa yang tidak membulatkan niat mengerjakan puasa sebelum waktu fajar, maka ia tidak berpuasa (Hadis sahih riwayat Abu Daud, al-Tirmidzi, dan al-Nasa’i).
Kesimpulan
Tata cara puasa Ramadhan meliputi pemahaman tentang kewajiban, dalil Al-Qur’an dan hadis, keutamaan pahala, waktu pelaksanaan, serta niat puasa. Seluruh ketentuan tersebut harus dipahami dan dijalankan sesuai urutannya. Dengan mengikuti tata cara puasa Ramadhan secara benar, ibadah puasa dapat dilaksanakan sesuai tuntunan syariat.
